Persyaratan Regulasi Pengangkutan B3

Landasan Hukum
UU No. 13 tahun 2003 pasal 87 ayat 1 :
“Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan manajemen perusahaan”

UU No. 22 thaun 2009 pasa 204 ayat 1 :
“Perusahaan angkutan umum wajib membuat, melaksanakan dan menyempurnakan sistem manajemen keselamatan dengan berpedoman pada rencana umum nasional keselamatan LLAJ.”

Peraturan pemerintah No. 51 tahun 201 Pasa 11 ayat 1 menyebutkan, “Sumber daya manusia di bidang transportasi harus memiliki kompetensi dibidang transportasi sesuai dengan jenis kompetensi yang di tetapkan untuk pekerjaan atau jabatan di bidang transportasi yang dilakukan.”
Pasal 11 ayat 2 menyebutkan,”Kompetensi sebagaimana disebutkan pada ayat 1 diperoleh setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan diklat transportasi.”

KEPMEN. MENAKER No. 269 tahun 2014 tentang standar kompetensi kerja Nasional Indonesia (SKKNI) kategori transportasi dan pergudangan Golongan pokok angkutan darat.

Catatan : SKKNI tentang kompetensi pengemudi angkutan, diantaranya 16 unit SKKNI pengemudi B3.

UU No. 22 tahun 2009 Pasal 48
Ayat 1:
“Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan dijalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan.”

Ayat 4 :
“Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan laik jalan sebagaimana di maksud pada ayat 2 dan ayat 3 diatur dengan peraturan pemerintah.”

Pengertian bahan berbahaya dan beracun :
Adalah bahan yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/ atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/ atau merusak lingkungan hidup, dan/ atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainya.

Contoh B3 : yang dapat kita temukan sehari-hari antara lain : Air Raksa, Air Keras, Air Accu, Asam Sulfat, Sianida Anorganik, Bensin, LPG, LNG dsb.

Klasifikasi bahan berbahaya :
Berdasarkan keputusan presiden RI Nomor 21 tahun 2003 tentang pengesahan protocol 9 Dangerous goods (Protocol 9 barang berbahaya), Merupakan kesepakatan tingkat mentri sembilan Negara Asean yakni :
Brunei Dasrussalam, Kerjaan Kamboja, Republik Indonesia, Republik Demokrasi Rakyat Laos, Malaysia, Uni Nyanmar, Republik Philipina, Republik Singapura, Kerajaan Thailand dan Republik Sosialis Vietnam.
Antara lain :

  1. Mudah Meledak
  2. Gas Mampat, Gas Cair, Gas terlarut pada tekanan atau pendingin tertentu
  3. Cairan Mudah Menyala
  4. Padatan Mudah Menyala
  5. Oksidator
  6. Racun dan Bahan yang Mudah Menular
  7. Rasioaktif
  8. Korosif
  9. Bahan Berbahaya Lainya

Simbol dan label :
Acuan : Gambar yang menunjukkan karakteristik B3
Simbol : Uraian singkat yang menunjukkan jenis dan karekteristik B3, informasi produsen, identifikasi B3, jumlah B3
Setiap kemasan B3 wajib diberikan simbol dan label serta dilengkapi dengan MSDS (PP NO. 74/ 2001 Pasal 15)
Simbol dan label yang rusak harus diganti dengan yang baru :
1. Jika rusak pada saat produksi, wajib diganti oleh penghasil
2. Jika rusak pada saat pengangkutan, wajib diganti oleh penanggung jawab kegiatan pengangkutan
3. Jika rusak pada saat penyimpanan, Wajib diganti oleh penanggung jawab kegiatan penyimpanan

SIMBOL B3 :
a. Berbentuk bujur sangkar yang diputar 45 derajat sehingga membentuk belah ketupat
b. Berwarna dasar putih dan garis tepi belah ketupat tebal berwarna merah
c. Harus dibuat dari bahan yang tahan air, goresan dan bahan kimia
d. Harus dapat menempel dengan baik, mudah digunakan dan tahan lama
e. Harus dipasang pada kemasan, kendaraan pengangkut dan tempat penyimpanan B3

SIMBOL PADA KEMASAN :
a. Ukuran disesuakan dengan kemasan
b. Harus sesuai dengan karakteristik B3 yang dikemas dan diwadahinya
c. Ditempel pada sisi-sisi kemasan lain
d. Tidak boleh terlepas atau dilepas dan diganti dengan simbol lain sebelum kemasan dikosongkan dan dibersihkan dari sisa-sisa B3

SIMBOL PADA KENDARAAN PENGANGKUT :
a. Ukuran minimal 25 x 25 cm atau lebih besar sesuai dengan ukuran alat angkut
b. Harus hanya satu macam simbol sesuai dengan karakteristik B3 yang di angkutnya
c. Harus menggunakan bahan warna yang dapat berpendar (Fluorescence)
d. Dipasang disetiap sisi dan dibagian muka alat angkut, serta dapat terlihat dari jarak sekurang-kurangnya 30 meter
e. Tidak boleh terlepas atau dilepas dan diganti dengan simbol lain sebelum muatan B3 nya dikosongkan dan dibersihkan

PERSYARATAN KENDARAAN :
1. Lulus uji berkala kendaraan dan wadah angkut B3
2. Berat muatan sesuai dengan spesifikasi buku keur
3. Ukuran, bentuk dan penempatan plakat pada kendaraan sesuai standar SK725
4. Ukuran dan penempatan tulisan nama Perusahaan pada kendaraan sesuai dengan SK 725
5. Persyatan khusus kendaraan penangkut B3 yang mudah meledak, gas mampat, gas cair, gas terlarut pada tekanan atau pendinginan tertentu dan cairan mudah menyala sesuai dengan SK 725
6. Persyaratan khusus kendaraan pengangkut B3 berupada padatan mudah menyala, oksidator, peroksida organik, bahan beracun dan mudah menular sesui SK 725
7. Persyaratan khusus kendaraan pengangkut B3 berupa bahan radioaktif, bahan korosif, dan bahan berbahaya lainnya sesuai SK 725

Persyaratan pengemdi dan kernek :
1. Persyaratan umum
– Memiliki sim sesuai dengan golongan kendaraan
– Mengetahui jaringan jalan dan kelas jalan
– Mengetahui kelaikan kendaraan yang dibawanya
– Mengetahui tata cara mengangkut barang
2. Persyaratan khusus
– Mengetahui angkutan B3 yang diangkutnya
– Mengetahui pengetahuan tanggap darurat tentang B3 yang diangkutnya
– Memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai tata cara pengankutan B3 seperti Defensive driving, Pre Trip Inpectoin, hubungan muatan degan pengembalian

Persyaratan lintas angkutan B3 :
a. kelas jalan yang dilalui
b. Tingkat bahaya muatan atau jenis bahan berbahaya yang diangkut
c. Frekwensi pengangkutan
d. Jenis kemasan
e. Volume bahan berbahaya yang diangkut
f. Kelestarian lingkungan, jika terjadi kecelakaan dijalan

Penentuan lintas angkutan bahan berbahaya dab beracun juga harus memeprhatiakan :
a. Tidak melalui daerah padat penduduk, terowongan, jalan sempit
b. Tidak melalui tanjakan dan belokan yang membahayakan atau tidak memungkinkan dilalui kendaraan angkut B3
c. titik rawan sepanjang lintasan, sperti daerah kemacetan lalu lintas, depot B3, Depot BBM, jalur lisrik tegangan tinggi dan lain-lain

avatar

Khairul Janwar

Menjadikan EduLogistik, E-Magazine, Education Logistics and Business. Yang berbasis website di seluruh Indonesia maupun Dunia.



Khairul Janwar

Menjadikan EduLogistik, E-Magazine, Education Logistics and Business. Yang berbasis website di seluruh Indonesia maupun Dunia.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: