Human factor yang saat ini sedang menjadi pembahasan menarik sehubungan dengan meningkatnya kecelakaan di tol Cipali. Kemenhub beserta stake holder lainnya sedang melakukan upaya perbaikan untuk dapat meningkatkan standar keselamatan khususnya di tol Cipali khususnya dan seluruh tol di Indonesia pada umumnya.

Human factor atau faktor manusia adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia secara fisik dan psikologi serta hubungannya dgn lingkungan dan teknologi. Hal hal yang terkait dengan human factor ini diantaranya adalah beban kerja, lelah, kesadaran memahami sekitar (situation awareness), ergonomi, kompetensi, kesehatan, kejiwaan, manajemen penugasan awak kendaraan (crew resources management) serta budaya selamat,” buka Ahmad Wildan Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) ketika menjadi narsumber kulgram TruckMagz (25/9)

Suatu kecelakaan dapat terjadi disebabkan dua hal yaitu : adanya unsafe condition dan atau unsafe act. Unsafe condition ini meliputi jalan dan kendaraan yang tidak berkeselamatan dan unsafe act meliputi errors dan violation. Unsafe Act terdiri atas dua elemen yaitu errors dan violations. “Jika Kepolisian dan Kemenhub menyatakan bahwa setiap kecelakaan selalu diawali dengan pelanggaran, itu tidak keliru. Karena sebagian besar kecelakaan yang terjadi di jalan perkotaan dengan karakteristik kecepatan rendah atau dibawah 60 km/jam adalah didominasi oleh violations. sangat sedikit kami menemukan kecelakaan di jalan dalam kota disebabkan karena errors. Penyebab kecelakaan pada jalan primer didominasi oleh errors, sangat sedikit violations

Human errors ada tiga bentuk yaitu skill based errors yaitu error yang dipicu oleh gap kompetensi dengan teknologi kendaraan maupun jalan, serta lost of situation awareness dan lost of control.
Contoh paling nyata kasus lost of situation awareness ini adalah kasus tabrak depan belakang yang hampir setiap hari terjadi di Tol Cipali. Hal ini bisa terjadi karena kegagalan pengemudi dalam memprediksi antara kecepatan dirinya dengan kecepatan kendaraan di depannya. Ini bukan lost of conrrol, tapi lost of situation awareness. 80 % kecelakaan antar kota di Australia terjadi karena human error, dan 75% nya adalah lost of situation awareness.

Errors berikutnya adalah terkait dengan lost of control atau kehilangan kendali. Ini adalah bentuk atau output dari fatigue sehingga seseorang mengalami micro sleep (tidur sesaat) pada saat mengemudi. Pada kecepatan 100 km/jam, kita tidur sedetik saja maka kendaraan kita akan bergerak sejauh 28 meter diluar kendali kita. Micro sleep tidak perlu waktu lama untuk menyebabkan kecelakaan. Cukup tidur sedetik saja, ditambah kondisi posisi roda depan yang dibawah standar atau caster camber tidak normal, sangat cukup membawa kendaraan menyeberang jalan, menabrak tiang tengah jembatan atau menabrak kendaraan lain dengan kecepatan 100 km/jam tanpa adanya pengereman

Salah satu cara mengatasi human error adalah dengan manajemen kelelahan pada pengemudi. “Manajemen kelelahan bisa dilakukan dengan menerapkan crew resources management yang baik, artinya perusahaan bisa menerapkan manajemen penugasan awak dengan baik. Membuat batasan tentang waktu kerja dan waktu libur serta melakukan pendeteksian kesehatan awak secara berkala. Hal tersebut menjadi salah satu poin penting pada sistem manajemen keselamatan (SMK) dalam menyediakan kesiapan awak. Dalam dunia penerbangan, pelayaran, kereta api ada dua macam cara untuk menjamin kesiapan awak. Pertama, pengaturan dengan ketat penugasan awak, mulai dari waktu kerja, waktu istirahat dan waktu liburnya. Kedua, kontrol kesehatan, mulai dari tahunan, sampai sebelum bekerja. Misalanya, saat seorang pilot berhenti di suatu kota untuk menunggu tugas terbang berikutnya, pilot harus benar-benar istirahat dan tidur minimal di hotel bintang empat sehingga dijamin pada saat mengemudikan pesawat dalam kondisi fresh,” tegasnya.

Contoh kasus human error lain adalah kecelakaan bus dan truk di Tol Cipali Bulan Agustus lalu. “Ini karena penurunan kewaspadaan pengemudi bus, dan bukan karena adanya truk yang parkir di bahu jalan. Contributing factor adalah suatu faktor yang jika ditiadakan, maka kecelakaan tidak akan terjadi. Kalau truk yang parkir di bahu jalan kita ambil, apakah bus akan selamat saat membanting kemudi secara mendadak ke ke kiri menghindari kendaraan lain? Belum tentu, bisa jadi bus keluar dari badan jalan. Jika pengemudi tersebut tidak mengalami penurunan kewaspadaan, sekalipun truk tersebut parkir di bahu jalan, tidak akan terjadi kecelakaan,” terang Wildan.


Editor : Sigit
Foto : TruckMagz

Views 516 

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *